Sekarang sudah tahun 2007. Sebentar lagi tahun 2009.
Iya, emang masih agak jauh. Tetapi sempat membuat saya berpikir...
Di tahun 2009 nanti, sudah 10 tahun saya meninggalkan bangku SMA!!
Maaf, saya masih tidak terbiasa dengan SMU. SMA lebih sesuai jaman saya dulu.
Sepuluh tahun!! Bayangkan, apa saja yang bisa terjadi selama sepuluh tahun.
Dalam sepuluh tahun, sebongkah makhluk sudah berubah dari bayi yang baru lahir sampai menjadi siswa SD.
Ketinggian permukaan laut mungkin sudah bertambah beberapa senti.
Orbit bumi mungkin bergeser beberapa derajat.
Suhu kutub mungkin bertambah beberapa Kelvin (atau mungkin lebih).
Intinya, 10 tahun adalah periode waktu yang cukup lama!!
Sepuluh tahun!! Apa saja yang sudah kau dapat selama itu?
Ngomong-ngomong soal usia, banyak orang bilang angka tersebut adalah topik sakral yang tabu untuk dibahas. Apalagi perempuan. Heran. Apa salahnya dengan umur? Mengapa angka tersebut menjadi misteri yang tak mau diungkap?
Saya memang sudah tidak muda lagi. Sudah lewat seperempat abad. Tetapi, di beberapa kesempatan, saya masih jadi yang paling muda. Contohnya pas reuni mungil SMA saya di Washington DC beberapa saat lalu.
Ketika mulai bertanya-tanya soal angkatan, kebetulan saya yang angkatan 99 ini jadi yang paling muda. Dan semua langsung bilang "waduh, malu!!" atau "aduh, udah tuwir banget gue!!"
Dan saya pun mengernyitkan dahi...
Waktu adalah sesuatu yang bergerak dengan kecepatan konstan secara progresif. Dengan kata lain, waktu cuma bisa maju dan tidak bisa mundur. Dan juga, hal-hal yang terjadi selama waktu berjalan tersebut cuma bisa bersifat akumulatif. Apa yang sudah terjadi atau dialami, tidak bisa dihapus begitu saja.
Jadi, bertambah usia = bertambah pengalaman = bertambah hal-hal yang bisa ditoreh dalam autobiografi kita masing-masing.
Dengan kata lain, semakin tua kita semakin keren!!
Waktu saya masih lebih muda, saya sering merasa "belum jadi." Belum jadi manusia yang "mantabh". Banyak hal-hal yang masih perlu dipertanyakan, yang masih tidak tahu, yang masih ditakuti bahkan dihindari. Bukan bermaksud untuk bilang kalau sekarang saya sudah tau semua, tapi coba deh bandingin kalian sekarang dan 10 tahun lalu. Apa kalian mau kembali menjadi lebih muda supaya gak ribut "udah tuwir?" Saya sih tidak!!
Sedikit kilas balik...
Tahun 1999 bukanlah waktu yang baik untuk berada di tanah air Indonesia. Pasca kerusuhan, pasca reformasi. Masih banyak ancaman berseliweran. Ketakutan masih menyelimuti kota Jakarta. Sudah panas, tambah panas pula.
Di tahun itu lah saya lulus SMA. Saat itu berasanya, "Wah, sudah gede!!!" Rasanya keren sekali menjadi anak kuliahan, tidak perlu pake seragam lagi, tidak perlu menjahiti kaus kaki panjang yang sering dirazia secara mendadak, tidak perlu menyemir sepatu setiap pagi. Tidak perlu bangun pagi-pagi buta sebelum jam 5 pagi, tidak perlu takut "dipajang" di depan aula, tidak takut lagi salah ngomong dan "dinyanyiin dengan merdu" oleh kepala sekolah, tidak perlu takut lagi dengan ulangan Matematika yang merupakan gabungan antara senam jari (karena jawaban/waktu yang diperlukan selalu melebihi batas maksimal tangan manusia normal menulis) dan senam otak (karena soalnya tidak pernah gampang, kalau terlihat gampang itu berarti soal jebakan).
Saya masih ingat, angkatan kita tidak diijinkan membuat buku tahunan. Bayangkan!! Krisis ekonomi adalah faktor utama (kepedulian sosial). Jadilah kita membuat secara illegal. Murah meriah tapi lumayan untuk ditandatangani para guru. Hari itu, kita lulus-lulusan. Tanpa pita, tanpa bunga, tanpa pesta. Sederhana. Mulai jam 7 selesai jam 9. Cuma dibacain si ini juara ini, si ini nilainya paling tinggi di sini, di sana, ya begitu-begitu deh. Murid thok. Tidak ada orang tua.
Pas sudah mau selesai acaranya, murid-murid berlari-larian minta tanda tangan guru-guru (ya, guru-guru memang tahu kita membuat buku tahunan secara ilegal). Kenapa berlari-lari? Karena, dengan alasan keamanan, kita harus sudah meninggalkan sekolah pukul 9 pagi, teng!! Emang gak enak, bersyukurlah kalian yang lulus pada saat aman damai tentram sentausa.
Jujur aja saat itu kita semua (termasuk saya) merasa keren. Lulus SMA!!!
Saya pun berlari-lari mengejar guru Fisika saya, Pak Arif. Sudah beberapa guru membubuhkan tanda tangan dan pesan-pesan seperti "Selamat!" atau "Semoga sukses!"
Tapi Pak Arif, yang selalu bermotto "Cintailah Fisika", berbeda. Ini yang dia tulis:
"Ubah cara belajarmu. Referensi!!"
Saat itu saya terpaku. Saya yang merasa keren ini masih bukan apa-apa. Dunia luar jauh lebih menakutkan.
KITA BARU AKAN MEMULAI, KAWAN-KAWAN!!
Perjuangan tiada akhir, tantangan dan hambatan, tetapi juga kemenangan yang manis.
Apa yang sudah bagus di SMA, tetap harus diubah. Dunia luar BERBEDA!
Kita akan meninggalkan zona nyaman kita. Berubah, untuk menyesuaikan diri. Kita harus siap.
Dan, hidup kita belum apa-apa. Baru akan memulai. Baru akan melangkah. Baru.
Sekarang, kalau saya melihat ke belakang. Kala lulus SMA itu saya masih "belum apa-apa."
Sama saja, 10 tahun ke depan, saya melihat saat ini dan akan berpikir "wah saat itu saya belum apa-apa."
Intinya, dengan bertambahnya waktu, kita menjadi semakin "apa-apa" dibanding sebelumnya yang masih "belum apa-apa."
Jadi, semakin tua = semakin "apa-apa" = semakin keren!!
Bangga lah akan umur kalian! Bangga dengan pengalaman dan keberhasilan yang telah kalian kumpulkan!!
Merasa belum cukup mengumpulkan? Mulailah! Supaya KEREN!!
Setiap bangun pagi, sebelum sikat gigi ayo kita berpikir bersama-sama "hari ini umur saya nambah 1 hari, saya harus lebih KEREN dari kemarin!!"
Jangan karena orang-orang bilang bicarain umur itu tabu apalagi untuk kaum hawa yang cantik-cantik ini, kalian jadi ikut-ikutan menabukannya.
Saya pribadi tidak bisa mencari benang merah logika nya (kalo tambah umur = tambah tuwir = tambah gak keren).
Karena yang saya pikir, tambah umur = tambah keren.
Itu saja!!
PS: lagi mencoba menulis bahasa Indonesia yang bagus dan benar, masih belum berhasil ya? Ayo coba lagi!!
Monday, July 23, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

5 comments:
Sebagai salah satu dari mereka yang (beberapa taon terakhir ini) ngerasa tuwir, ehm, ehm, gua mau bilang *ini serius lho*:
Ketuwiran itu bikin kita yang tuwir ini merasa terbebani. Kenap nap? Karena perasaan kayak gini:
"hari ini umur saya nambah 1 hari, saya harus lebih KEREN dari kemarin!!"
hmm bisa juga ya bang dodol.
tapi ya emang gimana lagi, namanya waktu jalan terus.
tapi mungkin sebenernya yang ngebebanin kita itu adalah ekspektasi orang lain?
i mean, banyak orang bilang by umur segini mesti segini, sebelum umur segini mesti segitu, etc.
hmm.. gitu yah?
He he he, ini jawaban serius lagi ya. Tumben-tumbenan nih.
Kalo gua pribadi: iya, harapan orang laen itu ngaruh jelas. Tapi yang utama justru harapan gua sendiri. Kalo gua liat lagi en ternyata nggak sesuai harapan, otomatis ada rasa giman man gitu. Yaaa, kok cuma segini doang pencapaian gua. Sementara hari jalan terus.
Apalagi kalo ngeliat orang laen ternyata melebihi harapan gua akan mereka.
Nggak ada yang salah ama rasa 'kecewa' ini kalo menurut gua. Tinggal giman man kita menyikapinya. Mau positif? Ya berusaha lebih keras sambil tetep bersyukur. Mau negatif? Ya duduk aja di pojokan sambil ngambek tiap kali ada yang nanya umur. Apalagi kalo yang nanya (jauh) lebih muda :)
haha ga kebayang lu mojok sambil mundung, bang dodol.
sejujurnya gua masi sering wondering
"g bakal mikir kayak sekarang ini gak ya kalo gua udah menjelang/melewati usia 30?"
sekarang sih gua asyik2 aja, soalnya so far berasanya makin hari makin dewasa. makin tua makin kumpulin pengalaman.
tapi emang, siapa tau ya ini sifatnya seperti a quadratic function with a negative coefficient, nanjak-nanjak, mencapai titik kulminasi, terus... mlorot.
hehe hayuh bang dodol yang lebih berpengalaman, nulis juga soal hidup progresif ini... ditunggu yah!
"g bakal mikir kayak sekarang ini gak ya kalo gua udah menjelang/melewati usia 30?"
Hmm, gua dulu mikir gitu nggak ya sebelon jelang 30? Kayaknya sih iya juga. Cuma emang makin ke sini makin (relatif) sering mikirin.
Gua -- en gua yakin banyak orang -- pernah kok nulis yang mirip-mirip. Bentar, cari dulu...
Nih: http://dodolsurodol.com/journal/2004/06/where_have_my_twenties_gone.html
Post a Comment