Monday, July 30, 2007

Premi XIII, si Belang, dan si Bengal

*kresek kresek*

Dua orang pemuda harapan bangsa beringsut-ingsut di balik semak-semak. Mereka diutus petinggi negara Rockiporti untuk menginspeksi negara sebelah, Halibut. Akhir-akhir ini warga Rockiporti resah dan cemas, setelah terdengar kabar burung kalau negara Halibut baru saja dihancurkan!! Entah oleh siapa. Premanvaganza, kelompok perompak yang sudah beratus-ratus tahun menimbulkan keributan di kalangan warga, digossipkan beraksi kembali setelah sekian lama vakum. Beratus-ratus tahun? Ya, entah sudah berapa generasi kelompok tersebut merambah lautan dan merebut teritori bangsa-bangsa yang biasanya mempunyai kekayaan alam dan pemandangan yang memang layak untuk di-iri-i. Endas (ya, beginilah kaum perompak Premanvaganza menyebut 'kepala suku') Premanvaganza selalu disebut Prema, jika cowok, dan Premi, jika cewek. Tanda ke-BESAR-an para endas ini adalah sebuah kalung BESAR dengan bandul yang BESAR pula. Konon, kalung BESAR dengan bandul BESAR ini pertama dipakai oleh Premayangpertama, disingkat Prema I, dan kemudian dihibahkan turun-temurun pada endas-endas berikutnya. Konon lagi, endas yang sekarang adalah seorang perempuan -- Premi XIII -- yang terkenal beringas. Ambisinya adalah menghancurkan negara-negara yang makmur. Halibut sudah menjadi korban, warga Rockiporti pun yaking mereka akan menjadi yang berikut.

"Hai Belang, apa yang kau lihat?"
"Air," jawab Belang.
"Dudung!! Kalau air doang aku juga lihat!" Bengal pun berseru kesal.
"Lha, kan tadi nanya..."






Tiba-tiba Bengal memegang kedua pipi Belang, seperti hendak mencium (Belang pun bergidik), dan memutar kepala Belang ke kiri. "Lihat itu!!"

Setelah Belang berhasil menenangkan degup jantungnya yang sempat salto karena takut dicium Bengal, dia pun berkata "Batu-batu? Memang kenapa? Kau butuh batu untuk ketapelmu? Batu itu terlalu besar, bodoh!"

"Kamu yang dudung!!" Bengal berseru sambil menoyor kepala Belang "Itu bukan sekedar batu... dan ya, batu-batu itu terlalu besar untuk ketapelku. Itu puing-puing!! Tidakkah kau sadar, kita berdiri di tempat di mana Halibut dulu berdiri?"

"Lho kok bisa" rupanya si Belang ini memang dudung beneran.

"Ini pasti pekerjaan si Premi XIII brengsek itu!!" terdengar dengusan geram si Bengal. "Ia menghancurkan Halibut yang indah. Lihat itu!! Mereka pun menenggelamkan hutan-hutan!! Sungguh keterlaluan!!" terlihat asap mengepul dari kedua telinga Bengal.

"Keren juga kali, bo, punya hutan bawah aer. Adem." Dan kepala Belang pun sukses tertoyor lagi...



Mereka pun berjalan pulang ke pusat kota Rockiporti. Ya, kota Rockiporti memang indah. Penduduknya pun ramah, saling menghargai, tolong menolong dan memegang teguh azas musyawarah mufakat. Toko-toko kerajinan tangan memenuhi pusat kota Rockiporti. Lokasinya yang dekat pantai membuat Rockiporti cukup populer di kalangan turis. Jelas negara ini tidak bisa dihancurkan begitu saja oleh Premanvaganza!! Di perjalanan itu, Bengal termenung, guram. Ia memikirkan strategi untuk menyelamatkan Rockiporti. Sementara Belang sibuk mengagumi warna kulitnya yang bertambah seksi kecoklatan setelah inspeksi di Halibut tadi.



"Aha!!" tiba-tiba si Bengal pun berseru dengan senyum penuh kemenangan dan jari telunjuk kanan mengacung di udara. "Da 'pa?" Belang terpaksa berhenti mengagumi warna kulitnya yang bertambah seksi kecoklatan itu. "Aku ada ide bagus!!". Gantian Belang yang mendengus "Ya iya lah, kalau kamu punya ide jelek ngapain bilang-bilang." Kali ini Belang cukup pintar, dia sempat menghindar sebelum kepalanya kena toyor lagi.

"Jadi bagaimana idenya?"
"Kita timbun kota ini!!"
"Dengan?"
"Batu!! Seperti yang Premanvaganza lakukan pada Halibut!!"
"Lha, kalo gitu apa bedanya dong kamu dengan Premi XIII yang beringas itu?"
"Pura-pura, dudung!! Kita pura-pura menimbun Rockiporti dengan batu, dengan harapan Premi XIII akan cukup bodoh untuk menyangka kalau dia pernah menyerang Rockiporti sebelumnya dan... kita lolos!!"

"Wah ide bagus!! Kamu memang keren, Bengal!!"

Bengal pun tersenyum sumringah penuh rasa bangga.

"Ayo kamu mulai bekerja sekarang, Belang!!"
"Lho?!?"
"Ayo!!"
"Terus kamu ngapain, Bengal?"
"Aku telah lelah berpikir, ayo cepat laksanakan perintahku! Bayangkan, nasib warga Rockiporti ada di pundakmu! Kamu harus menyelamatkan mereka! Atau kau rela melihat kota ini hancur seperti Halibut tadi?" kata Bengal berapi-api.

"Oke, boss!! Ya, aku akan bekerja keras demi nusa dan bangsa!!" Belang pun menyingsingkan lengan baju dan bekerja sambil mendendangkan lagu kebangsaan Rockiporti. Dia paling suka bagian refrain-nya "We will, we will rockiporti you."

Ah... selesai sudah tugas ini, pikir Belang sambil mengusap peluh. Negara Rockiporti sudah tampak seperti puing-puing yang merupakan sisa-sisa negara Halibut. Tetapi, di bawah batu-batu tersebut, warga Rockiporti masih menjalani hidup mereka secara normal, walau tanpa sinar matahari.

"Sudah beres, Belang?"
"Sudah!!"

"Nah, sekarang kamu berjaga! Laporkan kalau Premanvaganza sudah menunjukkan batang hidungnya"
"Lha kok aku kerjo'ne dhewean terus, yo? Piye tho iki?"

Dengan rasa nasionalisme dan patriotisme nya yang sangat tinggi, Belang pun berdiri di atas puing-puing yang telah bersusah payah di bangunnya (nah, sekarang kalian sudah tahu mengapa dia dipanggil si Belang -- BEtis LANGsing).

"Bengal!!"
Bengal merasa terganggu karena tidurnya terganggu. Ia sedang bermimpi tentang... ah sudahlah, jangan dibahas. Bengal tersipu malu.

"Aku melihat sesuatu!! Ada beberapa kapal mendekati ujung pulau!! Mungkinkah mereka kapal-kapal perompak Premanvaganza?"


Belang pun melayangkan pandang ke arah lain, sedikit ke arah barat. Dan benar saja!! Dia melihat perahu-perahu berduyung-duyun menuju arah Rockiporti. Semakin lama semakin banyak. Dan dia pun segera bersembunyi di belakang batu-batu bersama si Bengal, yang terpaksa melupakan mimpi indahnya sejenak, dua jenak, tiga jenak, dan jenak-jenak merpati.


Tiba-tiba sesosok perempuan yang bertampang beringas turun dari perahu terbesar yang berwarna merah. Dia segera menyusuri batu-batu dan berjalan ke tengah 'pulau.'
"Aku melihatnya! Ya aku yakin sekali itu pasti Premi XIII" kata Bengal dengan sok tau-nya yang membuncah bagai busa soda di botol yang habis dimasukkin ke mesin cuci dan hendak dibuka tutupnya.
"Tidak salah lagi!! Dia memakai kalung BESAR dengan bandul BESAR!!"
"Hlha, itu ketua perompak atau TURIS? Gaya bener....."
"Tapi, lihat kalung BESAR-nya! Dengan bandul BESAR-nya!!"
"Itu bukan kalung, dudung kuadrat!!!" dan Belang pun menoyor kepala Bengal dengan penuh kemenangan.
Bonus track:
"We will, we will, rockiporti you..."
Bonus picture:
Premi XIII

--- T A M A T ---
Maap... kalo garing-nya ga ketahan. Sengaja sih. Hihi..
Tiga foto pertama diambil di Halibut Point State Park, dan foto-foto berikutnya di Rockport. Masi banyaaaak foto-fotonya. Ini pertama kali saya ke rocky beach. Biasanya sandy beaches. Phwoaaaaarrr... saya suka sekali!! Walau kadang licin banget, atau batunya suka goyang-goyang sendiri.
Berjalan-jalan di Rockport, tercium bau pasir, garam, dan ikan. Toko-toko mungil menjual pernak-pernik, baju, souvenir, perhiasan -- kristal, plastik, perak, batu-batu unik, cafe-cafe mungil, toko-toko ice cream mungil (tokonya yang mungil bukan ice cream nya)... Selama ini saya pikir tempat seperti itu hanya ada di buku cerita!!
Dan, yah... semoga tidak ada yang percaya kalau itu hutan bawah aer. Hutan bawah aer dari Hongkong? Rumput laut doank kok.
PS: Si belang itu, hanyalah seorang pria kurang beruntung yang tiba-tiba datang ke jangkauan jepretan kamera saya. Tadinya dia melihat ke depan, fotonya bakal bagus banget! Tapi tiba-tiba dia nengok aja. Huh! Dasar Belang! Tapi untung juga, kalo mukanya keliatan kan kurang pantas untuk dipajang di sini (publik gitu loh). Belang, kalo kamu liat ini, saya minta ijin ya!

No comments: