hmm kayaknya mid-2003.
Kalo bulan bisa ngomong, mungkin sekarang dia udah merepet dan cerita panjang lebar. Sejuta musim sudah dia lewati, seribu badai telah dia lalui. Memorinya pasti melebihi semua kitab yang ada, dan dia juga pasti bisa menjawab jutaan pertanyaan lebih banyak dari yang dirangkum dalam buku “Mengapa Begini Mengapa Begitu”.
Mungkin dia segera menangis sesenggukkan ketika menceritakan tragedi-tragedi di dunia. Si ini meninggal, si anu membunuh si itu, blablabla.. Ceritanya takkan berhenti. Hmm, mungkin juga dia menangisi porak porandanya dunia sekarang. Penduduk dunia menjadi egois, mau menang sendiri dan mengutamakan kepentingannya sendiri. Pemerasan terhadap pihak yang lebih lemah sudah dianggap “pemandangan sehari-hari” olehnya. Kedamaian dunia sudah menjadi barang langka yang rasanya mustahil bin mustajab untuk dilestarikan. Bahkan sang bulan pun sebenarnya sudah menyimpan pertanyaan untuk kita, manusia. Mengapa semua ini terjadi? Mengapa sebagian besar penduduk dunia tidak bisa menjadi teman satu sama lain? Mengapa harus ada pembunuhan dan perang? Tidakkah mereka tau kalau merenda persahabatan itu sangat mudah? Dan sangat indah? Apa susahnya sih?
Bahkan agama, yang seharusnya menjadi sarana untuk mendekatkan manusia dengan Tuhan dan dengan ciptaan-Nya yang lain akhirnya menjadi parang yang memecah belah, sabit yang mencabik-cabik dan pisau yang menusuk dari belakang.
Stooooppp!!
“……………………………………………………………………………………………”
Hening. Oh, adakah yang peduli? Adakah yang menanggapi? Heeehhh, ternyata tidak ada yang mendengar. Karena bulan memang tidak bisa ngomong dan manusia terlalu sibuk untuk peduli terhadap hal-hal seperti ini.
Kacau, kacau, kacau. Lihat keluarga itu. Saling membenci. Kata “cinta” sudah di luar kamus mereka. Apakah susah merangkai 5 alfabet? Ayah sibuk (ngapain?). Ibu dipusingkan oleh urusan kecantikan. Kuku yang merah mengkilap lebih penting dari gizi anak. Body yang langsing dan betis yang kenceng terkadang mengalihkan perhatiannya dari sekolah anak-anak. Akhirnya? Anak laki-laki satu-satunya menghamili kekasihnya di luar nikah. Hmm, rasanya terlalu ironis kalau kita tetap menggunakan kata “kekasih” dalam konteks ini. Anak perempuannya, cantik dan masih 15 tahun. Oh apa yang terjadi? Dia sudah putus sekolah karena ketahuan mencuri handphone temannya. Pelajarannya pun tidak menunjukkan kecerahan setitikpun. Jagonya pacaran. Aduh. Sang kekasih (lagi-lagi kata itu!!) memaksanya untuk melakukan itu semua. Uang uang uang yang dimintanya. Lihat matanya, hijau!! Sang putri yang katanya “dikasihinya” itu dipukul sampai memar dan biru kalau tidak bisa memberikan uang.
Kekasih, dikasihi. Mengapa semua memakai kata “kasih”? Tetapi di mana letak kasihnya? Apakah manusia sudah terlalu pandai untuk memanipulasi kata-kata? Atau terlalu bodoh untuk mengerti arti harfiah sebuah kata? Atau dia ingin bertindak sebagai pengatur alam semesta, dimulai dengan mengubah arti kata?
Sang bulan pun akan berkata lagi, andaikan engkau melihat anak itu ketika masih kecil. Cantik dan manis. Menggemaskan. Sejuta masa depan yang cerah membentang di depan mereka. Tanggannya yang mungil meraih jari orang dewasa. Ingin menunjukkan keberadaannya. Ingin menunjukkan determinasinya. Inilah aku. Aku yang dicintai Tuhan, yang diciptakan seturut citra-Nya. Aku dititipkan pada orang tuaku untuk berkembang sesuai ajaran-Nya dan menjadi anak-Nya.
Tetapi apa yang terjadi? Rupanya sang ibu kurang bertanggung jawab. Berenang 3 kali seminggu untuk mengurangi berat badan. Aerobic dan senam untuk mengencangkan tubuh. Ketika sang ibu menjalani diet, mungkin dia lupa kalau anaknya masih membutuhkan nutrisi lengkap. Sang ibu menikah ketika berusia 17 tahun (wajar untuk jamannya, seturut penuturan sang bulan). Ijazah SMP tidak dipeganngnya dan ijazah SMA tidak sempat menjadi angan-angannya. Hmm, mungkin hal itu yang membuat dia menelantarkan sekolah anaknya. Tanpa lulus SMP pun bisa hidup enak dan layak kok, kenapa harus perah otak peras keringat di sekolah?
Yahhh.. mau apa lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Palu hakim sudah diketuk. Sang bulan pun tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti biasa, dia diam. Hanya melihat, memandang dan menyimpan semua perasaannya dalam hati. Tidak ada kata peringatan yang bisa keluar dari mulutnya. Dia sudah melihat terlalu banyak peristiwa dan menelan terlalu banyak sejarah, menjadikannya lebih bijaksana dari semua manusia yang ada di dunia.
Mungkin kalau dia sempat memberi peringatan, sempat mengutarakan “words of wisdom”-nya, menasihati kaum manusia, dunia bisa menjadi lebih indah dan damai. Tetapi, bulan memang tidak bisa ngomong…
Doanya dalam hati, semoga ada manusia-manusia yang masih menempatkan otak dan hatinya di tempat yang semestinya. Manusia-manusia ini harus menjadi duta perdamaian Tuhan di dunia. Berharap, berharap, berharap. Kalau bulan bisa ngomong, akan diteriakkannya kata-kata itu.
Apakah kita akan mendengar? Atau menutup telinga kita, ditulikan oleh hingar bingar dunia?
(Nantikan di POJOK berikutnya: Bahkan Kalau Bulan Bisa Ngomong…)
Thursday, July 26, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment