Saturday, July 28, 2007

kue keberuntungan

Kamu percaya dengan kue keberuntungan? Itu, kue yang berbentuk... ah susah menjelaskannya. Seperti pastel, tetapi terlipat di tengahnya. Ya, itu... benar. Kue yang diisi secarik kertas. Kamu tidak percaya? Sudah kuduga.

Saya? Hmm saya juga tidak percaya. Bagiku kue itu hanyalah adukan gula dan tepung dan... apa lagi? Maaf saya jarang buat kue, jadi tidak mengerti. Sampai di mana tadi? Oh iya, gula dan tepung dengan bahaya kertas tertelan =). Tetapi, kamu tahu tidak? Tadi siang saya merogoh-rogoh isi dompet ketika bosan mengetik di perpustakaan. Tahu apa yang kutemukan? Surat hutang? Wah, bukan. Saya anti berhutang. Saya menemukan tiga carik kertas kecil, yang melempar saya ke dua setengah tahun lalu...

.........

Saat itu hari Jumat, 28 January 2005. Kami sedang berada di dalam sebuah ruangan. Tidak terlalu besar, tetapi tidak kecil juga. Cukup lah untuk 50 an orang bergerak leluasa. Air conditioner? Wah, iya jelas. Ruangannya ber-AC. Mana tahan kalau di Singapore tidak ber-AC? Saat itu cukup ramai. Orang bernyanyi-nyanyi, berdansa dan ada musik. Pemusiknya sangat berbakat. Orang-orang memakai kostum. Saya? Wah saya jelas tidak bermain musik, bernyanyi ataupun berdansa. Haha jangan coba-coba membayangkan!! Saat itu saya duduk di lantai, sedang mencatat-catat sesuatu, tiba-tiba...

"AAAAAARGHHH.... musiknya salah!!"

Seisi ruangan tercekam. Para penyanyi dan penari mematung. Para pemusik diam, menggelegak dalam hati. Musik mereka tidak salah!! Penyanyinya yang salah!! Saya? Saya melongo. Saya sedang mencatat, ingat? Saya tidak tahu apa yang terjadi. Telinga saya tidak jago mendengar musik. Tiba-tiba dari sudut mata terlihat, beberapa pemusik mulai merapikan alat-alat musiknya, dan kemudian meninggalkan ruangan dengan wajah sangat mendung. Oh, tidak! Jangan! Mengapa mereka berhenti bermain? Mengapa mereka keluar?

Saya melayangkan pandang ke sekeliling ruangan, menangkap pijar mata rekan-rekan seperjuangan. Bagaimana ini? Saya yakin saya pucat seperti kertas saat itu. Tiba-tiba, orang mulai bergerak. Panik. Ada yang berlari mengejar para pemusik tersebut. Salah. Maksud saya, bukan 'ada.' Tetapi 'banyak.' Ada yang menangis. Ada yang merubungi yang menangis. Ada yang pucat (saya). Malu rasanya. Setelah berbincang-bincang dengan beberapa pihak, latihan pun dihentikan. Becky Tumewu pulang bersama sahabatnya yang merangkap sebagai managernya, Petty. Atau Patty? Ya pokoknya seperti itu lah.

Beberapa orang kembali ke ruangan dengan lunglai. Ada yang mulai menangis. Ada yang terlihat sangat hampir menangis. Saya? Masih pucat. Tetapi apakah saya mungkin menangis? Tidak, cari solusi!! Tetapi bagaimana? Saya bisa apa? Saya tidak mengerti musik.

Akhirnya, pukul 10 malam saya dan rekan-rekan seperjuangan saya pun berangkat ke tempat rapat favorit kami, Marriott hotel di kawasan Orchard. Kami duduk di lobby, memesan kopi dan teh dan pernak-perniknya. Ada kue keberuntungan, pikirku ketika melihat ke atas meja. Ah siapa peduli? Yang saya pikirkan hanyalah, bagaimana kami bisa menggelar drama musikal yang sudah dipersiapkan selama setengah tahun, dan dijadwalkan untuk pentas kurang dari 48 jam dari saat itu, ratusan tiket sudah terjual, TANPA PEMUSIK? Anda punya jawabannya?

Kami sibuk berpikir, mencari solusi, walau jalan rasanya buntu. 2 hari lagi! Tanpa pemusik! Mungkinkah? Kalau kalian tanya apa saja yang terjadi saat itu, jujur saja saya lupa. Perasaan saya? Entah. Yang jelas guram. Ingin menangis tapi saya benar-benar tidak bisa menangis. Dan lagi, apa yang bisa dihasilkan dengan menangis?

Tiba-tiba terasa getaran di kantung jeans saya. Ada SMS masuk. Saya cek nama pengirim, Dom. Dom adalah sahabat saya. Sahabat kami. Dia adalah ketua pemusik, dan dia lah yang meninggalkan ruangan pertama kali, diikuti istri dan rekan-rekan pemusiknya. Saat itu, sudah pukul 2 pagi mungkin.

Dom [D]: Rhea, are you OK?
Rhea [R]: Yes, I am fine.


D: I am worried about you all. I am so sorry about what happened, but it was too much. We had to leave. Are you really OK? How about the rest?
[memang, sebelumnya sudah ada friksi antara pemusik dan paduan suara. Tetapi kami kira, itu normal]
R: Don't worry, I'm fine. Whatever happens, the show must go on anyway.
[jujur, saya tidak tahu dari mana saya dapat keberanian dan optimisme seperti itu].

Diskusi pun berlanjut. Kesimpulannya? Entah. Kami masih menghadapi jalan buntu. Saya cuma bisa pasrah. Herannya, saya tidak bisa menangis. Ketika kami terdiam, tiba-tiba terdengar sebuah monolog singkat. Suara siapa? Ya ampun, itu suara saya sendiri!

"Ini naskah pertama saya yang akan dipentaskan oleh puluhan orang dan ditonton ratusan orang. Uskup Singapura, Duta Besar Indonesia untuk Singapura, dan tamu-tamu penting lain sudah menyanggupi untuk datang. Lagu-lagu dengan lirik yang saya tulis akan dimainkan dalam teater. Adik saya sudah spesial datang dari Jakarta semalam hanya untuk menontonnya."

.....

"Ini pengalaman pertama buat kita semua. Pertama kali jadi sutradara, pertama kali menjadi penulis naskah, pertama kali menjadi pemeran utama, pertama kali menyanyi untuk drama musikal, pertama kali menari untuk drama musikal, pertama kali melatih sekelompok paduan suara, pertama kali mengarang dan mengaransemen lagu, pertama kali berkeliling Singapura mencari bahan untuk kostum dan perangkat pentas, pertama kali ini dan pertama kali itu. Kalau ada yang bisa menghentikan kita sekarang, itu cuma Tuhan! Manusia tidak akan bisa. Kita sudah berjalan sejauh ini."

Mereka semua mengangguk tanda setuju. Tetapi sebenarnya apa saya seyakin kedengarannya? Sebenarnya tidak. Sebenarnya saya gemetar di dalam. Takut. Dan jujur saja terus bertanya dalam hati "Mengapa saya masih belum bisa menangis?" Dengan harapan, kalau saya menangis saya bisa merasa lebih enak.

Saat itu sudah jam 4 pagi. Kita harus beranjak pulang. Salah satu dari kami harus siaran keesokkan harinya, di Radio Singapore International (RSI). Ya, dia memang penyiar radio.

Dan mata kami pun tertumbuk pada kue keberuntungan yang sudah menjadi dingin. Karena lapar, kami semua mengambil seorang satu.

*Krek*

Saya belah kuenya. Lho, kok kertasnya banyak amat? Percaya atau tidak, ada tiga helai kertas kecil di dalamnya!! Tiga!! Beneran. Apa yang tertera di sana?

"Courage is the master of fear."

"You will win success in whatever you adopt."

"You are a practical person with your feet on the ground."

Dalam hati saya berpikir "Yeah, right. Look what I've got. World's greatest irony."

.....

Tanggal 30 Januari 2005, hari Minggu. Pukul 8 malam. Hiruk pikuk terdengar dari belakang layar. Bukan kepanikan, bukan tangis. Eh, maaf. Ada yang menangis. Tetapi menangis bahagia. Kami semua berlari kesana kemari, tertawa-tawa dan berfoto-foto. Entah berapa foto yang diambil. Rekan-rekan seperjuangan, para pemain, para penari, dan juga Dom, istrinya, semua pemusik berpelukan, bahagia dan puas. Dom pun melihat saya dan tersenyum, "Rhea, the show indeed must go on." Saya tersenyum membalas.

Apa yang terjadi selama 36 jam itu (sejak kami meninggalkan Marriott sampai jam 5 sore, ketika layar mulai dinaikkan)? Kami tahu. Tetapi mengapa itu semua bisa terjadi? Oh, kalo itu.... sepertinya hanya Tuhan yang tahu, dan yang akan tahu. Bagi kami sampai sekarang itu masih misteri.

Rhe, jadi kamu percaya gak sama kue keberuntungan?

Hmm, kalau bagus mengapa tidak? Kalau jelek ya lupakan saja...

No comments: