Menurut saya, setiap hari kita pasti akan lebih keren (maksa ya -- red.). Kenapa? Karena seperti sudah disebut sebelumnya, waktu dan hidup kita itu sifatnya progresif akumulatif. Jadi cuma bisa maju, bertambah, dan berkembang. Pun kalau yang terjadi adalah kegagalan atau bahkan stagnansi. Karena saya percaya, kalau kita selalu berpikir progresif dan positif, kegagalan dan stagnansi itu adalah bagian dari proses untuk menghasilkan sesuatu.
Saya selalu percaya kalau kegagalan itu bagian dari sukses. Memang terdengar klise, tapi saya percaya banget akan hal itu. Atau mungkin saya hanya berusaha berpikir positif, meng-infus pikiran saya sendiri atau bahkan menghibur diri sendiri? Ya mungkin.
Entah tepat pada konteks atau tidak, tapi mungkin bisa saya angkat contoh dari proses meriset. Riset saya tidak selalu berjalan lancar, ada kalanya kepingin menyerah dan berhenti. Sekarang saya lagi di tengah-tengah tahap menulis thesis, yang sudah membuat rambut yang dikagumi (lebih tepatnya diherani) saking lurusnya ini jadi keriting. Merangkum hasil-hasil untuk di-thesis-kan membuat saya teringat akan proses panjang yang saya alami untuk sampai ke titik ini. Percaya deh, wahai kawan-kawanku, kalau lebih banyak kegagalan dan jalan buntu daripada titik terangnya. Banyak banget momen-momen "aduh gak mungkin banget". Dan kalau dipikir-pikir, mungkin bahkan ketika konsep yang saya presentasikan sekarang lahir di otak, itu cuma dalam beberapa hari. Tau-tau jadi. Malah kesannya terlalu TIBA-TIBA. Dan sempat terpikir "duh coba kalo dulu udah kepikir, hidup gua akan jauh lebih santai."
TAPI APAKAH ITU MUNGKIN? Apakah titik terang itu mungkin untuk dicapai kalau kegagalan-kegagalan dan kesalahan-kesalahan tolol (yang bikin saya pingin mendelesep masuk ke dalam bumi) itu terjadi? Rasanya sih nggak.
Bahkan masa stagnansi. Fisikawan Helmholtz merangkum tiga fase riset: inkubasi, saturasi, dan pencerahan. Jadi kita memang perlu berpikir dan mencoba sampe
Ya, memang semua itu ada prosesnya. Pernah di suatu masa, ketika riset saya mandeg semandeg-mandegnya, sudah beberapa bulan berjalan tapi rasanya belum nemu-nemu celah yang bagus untuk memulai, belum kepikiran sama sekali, DAN professor saya pun sudah kehabisan ide juga. Dia sempat khawatir kalau SAYA khawatir dan jadi depresi, karena di program saya, memang waktu menyelesaikan thesis itu sangatlah gila, jauh lebih gila dari murid-murid MIT lainnya.
Dia tanya: "Rhea, are you worried?"
Saya pun menjawab: "Hmm, not really. I think if I do something everyday, even if it is wrong, I can only move forward."
Dia terlihat terkesan dengan jawaban saya, dan saya lebih terkesan lagi karena dia terkesan, hehehe...
Terkadang, kita sebenernya mempunyai progresi yang tidak kita sadari. Ambil contoh lagi dari riset (janji deh abis ini contohnya dari kehidupan nyata), ketika saya melakukan sesuatu saya biasa berpikir "aduh saya ngapain sih, cuma trial and error aja kerjanya. kerjaan kok gak ada hasil gini." Tetapi sekarang saya bisa melihat ke belakang dan berpikir "salah satu dari coba-coba tersebut akhirnya jadi bahan utama thesis saya sekarang, dan siapa tau bisa berkembang di masa mendatang -- amin." Intinya, ketika kita sebenernya menghasilkan sesuatu, kita sering gak nyadar.
Nah sekarang contoh di kehidupan nyata. Saya sempat bekerja selama 3 tahun, sebelum akhirnya kembali jadi anak sekolah. Ironisnya, sebenernya saya sudah tau dari dulu kalo 'nasib'nya emang cocoknya di sekolah. S2, S3, S4 kalo ada. Semua orang pun bilang begitu. Ah, cerita lengkapnya terlalu panjang untuk dimasukkan di sini.
Selama 3 tahun itu, saya sering merasa seperti anak ayam kehilangan induk. Suka berasa ada yang salah, rasanya belum gimana gitu, tapi gak tau mesti ngapain. Ada kalanya saya berasa rada 'tidak berguna' juga. Ngeliatin orang-orang lain, aduh kok saya cuma begini. Dan berasa hidup saya cuma rutinitas belaka. Hidup ya gitu-gitu aja, gaji ya gitu-gitu aja. Dan saya sempat berasa 'dikejar umur.' Aduh masa umur segini masih begini, begitu. Dan ketika saya akhirnya beneran balik ke sekolah lagi, sempat terpikir "mestinya dari dulu aja langsung sekolah lagi, toh dulu udah ada yang mau ambil, jadi kan gak buang umur."
TAPI... setelah dipikir-pikir, dulu ketika stagnansi itu, banyak proses yang terjadi dalam hidup saya. Untuk akhirnya sampai ke titik ini, butuh proses. Iya memang mungkin saya langsung lanjut sekolah abis lulus taun 2003, tapi apa saat itu saya sudah tau topik riset apa yang saya mau ambil? Dan melihat teman-teman saya yang semuanya belum punya pengalaman kerja (maaf, ini BUKAN generalisasi), saya melihat kalau cara berpikir mereka lebih pendek. Jelek? Nggak juga sih, saya dulu juga begitu. Tapi pengalaman 3 taun yang rasanya 'gak ngapa-ngapain' itu sebenernya udah membuat saya lebih dewasa (beneran ni) dan punya cara berpikir yang jauh lebih matang.
Stagnansi juga mengajarkan saya satu hal: HIDUP. Ya emang ini agak memalukan, tapi di MIT justru saya lebih banyak main daripada waktu saya di NTU apalagi di SanUr!!! Dan herannya, saya lebih berasa ada hasil yang beneran dan otentik ketika saya di MIT, dan saya juga masih bertanggung jawab akan hasil saya di sini tentunya. Selama 3 tahun itu saya telah punya kesempatan untuk sadar kalau "ada kehidupan di luar sana", dan sadar kalau berhadapan dengan orang lebih butuh skill daripada berhadapan dengan komputer, dan saya juga lebih ada banyak kesempatan berada di posisi kepemimpinan.
Pasca-sarjana jelas beda dari kuliah S1. Dia gak butuh otak doank, tapi banyak antek-anteknya. Dan sekarang, ijinkanlah saya memproklamasikan kalau saya sudah bisa mencapai keseimbangan (yang lebih bagus tapi mungkin masih belum terlalu bagus juga) antara ke-nerdy-an dan hidup yang lebih bernuansa *tsaaaahhh...*
Any comments?

2 comments:
Rhea, jawabanmu ke professormu itu mengena sekali ke gua. Selama ini gua ngerasa abis lulus gua ga berarti apa2, tapi kalo liat ke belakang, sebenernya gua udah achieve something juga sih, cuman sampe sekarang ga bisa acknowledge aja. Dari lulus ga punya apa2 sekarang gua punya ice cream cafe sendiri, dan gua melakukan semua itu tanpa keluar modal duit sama sekali. Thank you for your sharing yah. Kadang2 ekspektasi kita terlalu tinggi sampe kita ga bisa appreciate diri kita sendiri, jadinya malah self destructive. Gua nemu blog lu accidentally, dan seneng baca tulisan lu, banyak maknanya. Lu bisa deh nulis buku. Cheers!
whoaaaa ice cream cafe!! di mana?
g ga pernah ada kata kenyang kalo sama ice cream.
thanks udah visiting yah.
sering2 mampir!! *gua suguhin apa ya?*
Post a Comment